Archive for September, 2008

Komunikasi Yang Efektif

Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu:

1.       pengirim pesan (sender),

2.       pesan yang dikirimkan (message),

3.       bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media),

4.       penerima pesan (receiver), dan

5.       umpan balik (feedback).

Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapapun unggulnya sebuah RS, atau seberapa kuatnya sebuah kasus hukum, kesuksesan tidak akan pernah diperoleh tanpa penguasaan ketrampilan komunikasi yang efektif. Apakah anda sedang mempersiapkan presentasi, negosiasi bisnis, melatih tim bola basket, membangun sebuah teamwork, bahkan menghadapi ujian akhir gelar kesarjanaan, maka efektifitas komunikasi akan menentukan kesuksesan anda dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Kemampuan anda dalam mengirimkan pesan atau informasi dengan baik, kemampuan menjadi pendengar yang baik, kemampuan atau ketrampilan menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif.

 

Disinilah letak pentingnya kemampuan mengembangkan komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu ketrampilan yang amat diperlukan dalam rangka pengembangan diri kita baik secara personal maupun profesional. Paling tidak kita harus menguasai empat jenis ketrampilan dasar dalam berkomunikasi yaitu: menulis – membaca (bahasa tulisan) dan mendengar – berbicara (bahasa lisan). Bayangkan betapa waktu-waktu kita setiap detik setiap saat kita habiskan untuk mengerjakan setidaknya salah satu dari keempat hal itu. Oleh karenanya kemampuan untuk mengerjakan ketrampilan dasar komunikasi tersebut dengan baik mutlak diperlukan demi efektifitas dan keberhasilan kita.

 

Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata ataupun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat.
Kita bisa menggunakan analogi sistem bekerjanya sebuah bank. Jika kita mendeposito-kan kepercayaan (trust) kita, ini akan tergambar dalam perasaan aman yang kita miliki ketika kita berhubungan dengan orang lain. Jika saya membuat deposito di dalam rekening bank emosi dengan Anda melalui integritas, yaitu sopan santun, kebaikan hati, kejujuran, dan memenuhi setiap komitmen saya, berarti saya menambah cadangan kepercayaan Anda terhadap saya. Kepercayaan Anda menjadi lebih tinggi, dan dalam kondisi tertentu, jika saya melakukan kesalahan, anda masih dapat memahami dan memaafkan saya, karena anda mempercayai saya. Ketika kepercayaan semakin tinggi, komunikasi pun mudah, cepat, dan efektif.
Covey mengusulkan enam deposito utama yang dapat menambah rekening bank emosi dalam hubungan kita dengan sesama:

 


Berusaha benar-benar mengerti orang lain.
Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication- komunikasi empatik. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita biasanya ”berkomunikasi” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita.
Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
 

 

Meminta maaf dengan tulus ketika Anda membuat penarikan.
Memperlihatkan integritas pribadi. Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari banyak jenis deposito yang berbeda.
Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah kita memiliki fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif, maka hal berikut adalah kita perlu memperhatikan 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.

 

Hukum # 1: Respect


Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
Bahkan menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang ahli psikologi yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa ”Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.” Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati ini akan menggenggam orang dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.
Hukum # 2: Empathy

 


Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand – understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam ilmu pemasaran (marketing) memahami perilaku konsumen (consumer’s behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perilaku konsumen, maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan dan kesenangan dari konsumen. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerjasama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork.
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.
Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam kegiatan komunikasi pemasaran above the lines (mass media advertising) diperlukan kemampuan untuk mendengar dan menangkap umpan balik dari audiensi atau penerima pesan.
Hukum # 3: Audible

 


Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan.
Hukum # 4: Clarity

 


Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.
Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita.
Hukum # 5: Humble

 


Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan.n
 

 

Happy Birthday

BELUM BERJUDUL

SEPT 11’ 2008

Especially ……..

Perlahan kutatap wajah langit malam temaram yang kemudian menjadi kelam, kelam dalam larut malam. Kupandangi smua yang ada disekelilingku tapi tak ada satupun yang sanggup menarik perhatianku hanya keheningan memelukku erat saking eratnya sampai nafasku terasa tertahan………… sesak, sesak sekali………………………………………………

Kutarik nafas panjang 1x, 2x, 3x, aaaaaaahhhhhhhh ……………… agak sedikit lega………

Dinginnya pendingin ruangan dengan angka 17 tak mampu mengusir rasa galauku yang teramat dalam hingga menusuk dasar hatiku  yang paling dalam, ternyata…………. sakit…….

Kulirik Hegner di tangan kiriku, ” hah ” aku terperangah kaget, ” jam 01.00 pagi?” Jam segini aku belum juga bisa pejamkan mata? Kataku terbelalak. Kuberanjak dari tempatku duduk menuju ranjang + kasur empuk yang menemaniku di malam hari. Aku duduk  di bibir ranjang, kuniatkan dalam hati untuk berangkat tidur. Kucoba pejamkan mata tak lupa aku berdoa dalam hati, tapi …………………………………

Ada rasa yang mengganjal dalam dada tapi aku gak pernah tau. Sudah satu bulan ini aku menjadi penderita insomnia yang mungkin ku ciptakan sendiri. Ku ciptakan sendiri……..?.

Rasa itu makin menyiksaku, menampar mukaku, mencabik – cabik hatiku sampai aku tersungkur lalu tergeletak tak berdaya. Pelan tapi pasti kukumpulkan tamparan, kepingan hatiku yang terkoyak untuk menjadi utuh kembali walau harus aku jahit disemua sisi dengan prolene 3.0.

Tepat pukul 03.05 wib hasratku tak terbendung lagi, ingin aku lari kesana, meneriakkan cerita bahagia, mengobati luka, untuk menuju satu rahasia hati. Aku coba meronta, lepas dari kenyataan tapi tak bisa. Kubisikkan pelan untuk yang teristimewa

 

” HAPPY BIRTHDAY 23 TH ”

 

Moga : Bahagia, panjang umur, menuju satu rahasia hati,

   mengobati jiwa yang terluka dalam ketidakberdayaan.

 

Lega rasanya hati ini, setelah kuucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat sederhana ” Menuju satu rahasia hati ”.

Aku larut dalam lelap tidurku, kunikmati tidurku yang hanya beberapa jam saja sambil kuberharap untuk bertemu dengan yang teristimewa bagiku, Ku harap bagimu juga………..

 

 

By Ismet Alimin

 

 

Jack Welch

MENGGELORAKAN GELORA PERUBAHAN

 

Ada seseorang dari Sao Paolo, Brazil, bernama Paulo Miguel, mengajukan pertanyaan kepada Jack Welch dan istrinya Suzy Welch pada rubrik Jack & Suzy Welch Winning di The New York Times, yang dikutip Republika, Senin (31/7/06). Pertanyaannya adalah: ?Bagaimana seharusnya sebuah perusahaan tradisional berubah untuk berkompetisi dengan perusahaan global yang muncul di mana-mana??
Ada jawaban menarik dari Jack Welch, sang mantan CEO General Electric, bahwa transformasi organisasi hampir tidak pernah terjadi kecuali orang-orang yang terlibat (di dalamnya) benar-benar merasakan kalau mereka itu memang membutuhan transformasi tersebut.
Cerita di atas menyangkut masalah sosialisasi suatu program pembaruan di perusahaan yang — kalau ingin sukses — harus ?merasa diperlukan? oleh seluruh elemen perusahaan yang bersangkutan.
Bagaimana dengan restrukturisasi dan transformasi di Pertamina yang sudah berjalan sejak 12 tahun lalu?
Pertamina ke depan mau tidak mau harus membumikan pro?gram-programnya. Tidak hanya dihayati dan bergelora di dada anggota top management saja, tetapi sudah harus terus-menerus digelorakan di dada segenap elemen di Pertamina.
Bahkan kalangan eksternal, seperti: Pemerintah, DPR, DPRD, Pemda, Pemkot, perguruan tinggi, kalangan pers, pengusaha, hingga masyarakat luas, semuanya harus mengetahui, memahami, menghayati, dan merasa perlu adanya perubahan di tubuh Pertamina.
Pendapat Jack Welch cukup kredibel untuk diperhatikan. Dialah CEO yang berhasil mengangkat General Electric (GE) dari keterpurukan, sehingga akhirnya bisa sejajar dengan para pesaingnya. Padahal kondisi GE sebelumnya berjalan lamban dengan anak perusahaan seabrek-abrek.
Kembali ke soal nasihat Jack Welch. Ia mengatakan kepada Paulo Miguel, ?Biro-krasi seperti yang terjadi di perusahaan Anda sekarang membuat orang bagai sedang berendam di air panas. Orang-orang tak akan pernah mau keluar. Mereka tidak akan mempunyai keinginan untuk melom-pat ke dalam es.?
Welch mengingatkan, ?Tanpa krisis, orang akan merasa lebih baik seperti seka-rang. Padahal dalam suatu kompetisi global, disyaratkan suatu perubahan radikal.?
Dan karena tidak ada orang yang mau melompat, kata Welch, mereka butuh dorongan. ?Pegawai Anda hanya akan berubah jika mereka melihat perubahan perilaku mereka itu membawa kemajuan bagi perusahaan, dan yang terpenting lagi, akan membawa perbaikan hidup mereka,? tulisnya.
?Harus ada alasan untuk perubahan itu. Dan buatlah alasan itu menjadi alasan pribadi (pekerja). Penyelamatan diri adalah motivator utama bagi seseorang untuk berubah,? bebernya lagi.
Oke, stop dulu pendapat Jack Welch. Karena ada pendapat senada yang pernah dilontarkan Boston Consulting Group (BCG), konsultan dari Amrik yang pernah disewa Pertamina tahun 1996, bahwa pekerja Pertamina berada pada zona aman.
Pendapat BCG ini menganalisis sejauhmana motivasi pekerja untuk berprestasi dan melakukan perubahan di perusahaan. Dengan berada di zona aman, maka pekerja, menurut BCG, tidak merasa tertantang berbuat maksimal. Apalagi untuk melakukan perubahan.
Ada kredo yang cukup diyakini oleh kalangan di Pertamina, bahwa berprestasi tidak berprestasi, pintar tidak pintar, inovatif tidak inovatif, rajin tidak rajin, fasilitas yang diterima sama saja.
Tidak ada ?ancaman? bagi mereka yang bekerja kendor, dan tidak ada apresiasi layak ketika bekerja dengan speed tinggi.
Menurut BCG, harus diterapkan reward and punnishment yang jelas. Ada sistem pem-berian penghargaan dan sanksi yang jelas yang diterapkan secara konsisten. Sehingga pekerja tidak berada pada zona aman, tetapi berada pada zona penuh tantangan.
Mengutip fatwa BCG dan mengamini pendapat umum Jack Welch, paradigma pengelolaan SDM di Pertamina memang harus dibenahi secara total.
Mengenai reward and punnishment ini yang mengemuka dalam diskusi hangat para anggota Tim Transformasi Pertamina di Lantai 2 Kantor Pusat Pertamina. Tak kurang Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal serta Direktur Keuangan Ferederick Siahaan yang ikut berdiskusi seputar hal tersebut.
Para anggota tim juga menyinggung soal sosialisasi program transformasi yang harus dicerna oleh kalangan bawah. McKinsey, konsultan yang mendampingi tim restrukturisasi, menjelaskan bagaimana mengelola komunikasi dan keterlibatan karyawan untuk menumbuhkan semangat dan membentuk budaya.
Menurut McKinsey harus ada tim yang terus memonitor jalannya transformasi dan hasil implementasi. Sudah mencapai target atau belum. Kalau belum kasih tanda merah, kenapa?
Yang utama adalah komunikasi, sehing-ga program dari Pusat bisa sampai ke ba-wah. Level-level yang menjadi sasaran ko-munikasi adalah level manajemen. Dewan Direksi harus kompak mengenai program yang telah ditetapkan. Lalu diturunkan ke manajer level menengah, dan biarkan bekerja selama tiga sampai empat bulan.
McKinsey lalu menyarankan, ada manager forum, sekitar 200 – 400 manajer dikumpulkan, bagaimana pengalaman me-reka. Bagaimana transformasi dijalankan di level mereka?
Level ketiga adalah massa. Harus ada komunikasi dengan massa melalui pema-saran dan kampanye advertising. Perusahaan harus memasukkan program transformasi ke massa supaya mereka bisa memahami.
Persoalan yang dibutuhkan oleh Peramina adalah metode sosialisasi yang tepat yang mampu menggelorakan gelora perubahan di seluruh level perusahaan.
Di dalam rubrik tetapnya di koran The New York Times Jack Welch mengatakan mengenai soal semacam itu. ?Bagaimanapun, sebuah organisasi yang kompetitif harus cepat dan transparan. Komunikasi yang jujur, terbuka, dan informal adalah sebuah keharusan. Sebuah pola pikir yang membuat orang mencari apa langkah terbaik bagi perusahaan adalah sebuah keharusan,? tulisnya.
Saran Welch, manajemen harus memberikan penjelasan detil kepada semua elemen perusahaan mengenai perubahan yang sedang terjadi dan dilakukan.
Ada teknis bagaimana sistem komunikasi ala Welch mengenai program perusahaan yang harus diketahui pekerja.
Ia bilang, ?Kumpulkan data sebanyak mungkin mengenai dinamika industri yang Anda jalani. Misalnya angka-angka margin profit, teknologi yang sedang berkembang, tren politik, atau apa saja yang nantinya menggambarkan dua tema yang jelas.?
Tema pertama tentang apa jadinya perusahaan jika tidak melakukan perubah-an, dan (tema kedua) apa yang dapat terjadi jika suatu perubahan dilakukan.
Buatlah mereka membandingkan hal-hal kontras. Misalnya, penutupan pabrik dengan kesempatan untuk berkembang di dalam dan luar negeri; kehilangan pekerjaan dengan pekerjaan yang menarik; gaji tetap dan bahkan turun dengan gaji yang bertambah bagi semua pegawai.
Lalu mulailah berkampanye. Bicara, bi-cara, dan bicara. Tidak bisa menyerap dan mempercayai kata-kata yang dilontarkan sekali atau dua kali adalah manusiawi. Makanya perusahaan harus mengulanginya lagi. ?Biasanya jika cerita Anda cukup menggugah, sikap anak buah Anda akan berubah. Mereka akan berubah lebih cepat jika Anda memberi penghargaan, atau memuji di depan umum,? jelas Welch.
Secara tegas Welch menyarankan, ?Pas-tikan bahwa Anda hanya mempekerjakan dan mempromosikan para true believer — orang yang benar-benar dapat menerima perubahan dan dapat mempengaruhi orang.?
Saran berikut, ?Pastikan Anda mulai meninggalkan orang yang resisten terhadap perubahan; yang tidak bisa meninggalkan gaya lama.?
Untuk konteks Pertamina tidak ada salahnya pendapat sang CEO berprestasi itu dicermati. Namun ada yang cukup mengejutkan, yaitu pendapat seorang deputi direktur di ruang diskusi Tim Transformasi Pertamina, bahwa Pertamina harus berani memberikan golden shakehand alias tunjangan untuk pensiun dini kepada mereka yang tidak berprestasi.
Barangkali pendapat sang deputi direktur itu mengamini pendapat Jack Welch, atau kebetulan sama gelora semangatanya dengan mantan CEO General Electric itu. Kata Welch, ?Perubahan radikal disyaratkan dalam suatu kompetisi global.?

 

15 September 2008 Kado Ulang Tahun

Tadi jam 13.30 Ica datang ke ruangan, ica seperti janji sy kemaren-kemaren…. ini kado ulang tahun ica yang ke 23…tapi syaratnya harus dibuka disini dan dibaca tulisan yang ada disana..tapi ica bilang..dok..bacanya jangan disini ya atau panggil bu bek untuk menemani….akhirnya bu bek datang untuk menemani ke ruangan, tapi tetap aja ica gak berani membacanya…..alasannya ini udah pribadi dok….nanti malam aja ica sms dok… walau setengah memaksa tetap saja ica keberatan dan malu…judul suratnya “Belum Berjudul”. Setelah itu langsung ke bawah….entah apa yang terjadi dengan ica……lebih dari 5 kali ica turun ke bawah untuk alasan yang macam-macam….tapi senang juga walaupun sibuk banget….tapi senang deh hari ini…..maunya sih nganterin ica pulang ke rumah……mungkinkah?…….apa yang akan terjadi ke depan?……Apakah pilihan terbaik atau why?Katanya nanti jam 12 malam dibalas isi surat itu….ditunggu…..ya ica…

MELAMAR GADIS

Seorang gadis mendapat lamaran dari empat orang pria, masing-masing pria telah mendapat pekerjaan tetap.

Pria pertama bekerja di PT. TELKOM, pria kedua pegawai PT. Pos Indonesia, pria ketiga seorang Dokter sedangkan yang terakhir hanyalah seorang Guru Sekolah Dasar.

Orang Tua si gadis dari awal sudah merasa yakin, bahwa anaknya hanya akan memilih tiga pria pertama, sedangkan pria keempat, yang hanya guru SD, pasti tidak akan dipilih. Alasannya, tiga pria pertama jelas masa depan cerah, sedang guru SD, siapapun tahu, gajinya kecil, banyak dipotong sana-sini, dikerjain anak-anak lagi. Ternyata saat diminta keputusan justru si Gadis memilih guru SD itu. Orang Tua si Gadis penasaran, bertanyalah sang Bapak soal alasan gadis tersebut. Si Gadis menjawab, Orang Telkom bisanya cuma tiga menit, lewat itu harus masukin lagi. Sementara pegawai Pos Indonesia belum apa-apa sudah nanya dulu, Yang biasa apa yang kilat?. Terus kalau dokter itu, baru masuk kamar sudah nyuruh buka baju, pegang sana pegang sini, selesai. Selanjutnya ngobrol doang. Jadi Saya tidak pilih mereka. Lalu kenapa kamu memilih Guru SD? tanya sang Ayah meminta kejelasan. Kalau guru SD kan enak, dari awal dibahas, dikupas, sedikit demi sedikit, penuh kesabaran, kelembutan dan kehangatan, serta pengertian. Selesai dikupas, nanya, sudah ngerti belum, kalau saya jawab belum, pasti diulangi lagi dari awal, kan enak, jadinya lama.

Apa yang Ibu lakukan jika “Suami Selingkuh”

SUAMI SELINGKUH

Istri mana yang tak malu dan sedih mengetahui pasangan hidup tertangkap basah bersama wanita lain. Mungkinkah perkawinan dipertahankan?

Belum lama ini tayangan infotainment ramai-ramai memberitakan kasus tertangkapnya Al-Amin Nur Nasution, suami pedangdut Kristina, yang tertangkap basah oleh penyidik KPK sedang menerima suap. Konon yang membuat Kristina syok justru bukan masalah suap, tapi soal adanya wanita lain yang juga berada di lokasi penangkapan, di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Kasus yang tak kalah menghebohkan adalah tersebarnya video porno mantan anggota DPR RI, Yahya Zaini, bersama wanita yang bukan istrinya, pedangdut Maria Eva, beberapa waktu lalu. Nasib serupa juga menimpa penyanyi Rosa yang suaminya, Yoyok, drummer band Padi, dikabarkan tertangkap basah bersama seorang wanita di sebuah kafe di Surabaya.

Melupakan Bukan Hal Mudah
    Malu, kecewa, sedih, dan tak percaya. Begitulah perasaan yang dialami saat mengetahui suami tertangkap basah sedang bermesraan dengan wanita lain. “Melihat situasi yang terjadi, tak mudah bagi seorang istri untuk memaafkan,” kata psikolog Widiawati Bayu, dari lembaga konsultasi Kassandra Associates.

Sedangkan untuk memaafkan, menurut Widiawati hal tersebut sangat tergantung pada individu masing-masing. “Tergantung dari bagaimana istri melihat kejadian tersebut,” paparnya.

Cerai atau Bertahan?
    Mengetahui suami selingkuh dengan wanita lain, tentulah istri merasa dilecehkan dan dikhianati. Apakah ini akhir dari perkawinan?

Bila Anda memutuskan untuk berpisah, pikirkan dengan baik dan bijaksana. Jangan sampai Anda hanya mengikuti emosi dalam mengambil keputusan. Perhatikan pula kondisi anak-anak.

“Jika istri masih ada keinginan untuk melanjutkan rumah tangga dengan alasan tertentu, maka tak ada jalan lain selain mencoba untuk memaafkan dengan tulus dan menerima suami kembali, meski kejadian tersebut telah meninggalkan luka hati,” ujar Widiawati.

Setelah Badai Reda
    Banyak PR yang harus dilakukan oleh pasangan suami-istri yang ingin kembali menjalin keutuhan rumah tangga pasca badai reda.

Bagi Suami:
    “Meski kadang sulit diucapkan, ungkapan maaf bisa mencairkan kekesalan istri,” saran Widiawati. Hal lain yang harus dilakukan suami adalah memulihkan situasi dengan cara memberi perhatian penuh pada istri dan keluarga sebagai wujud penyesalannya.

Bagi Istri:
    Setelah kita memilih untuk memaafkan suami, hindari mengungkit-ungkit masalah, karena akan masalah tersebut tak pernah selesai, bahkan memburuk. “Hal yang sulit bagi istri adalah kembali percaya. Hindari perasaan negatif dengan berusaha membuat mind set positif,” ujar Widiawati. Bila dirasa perlu, bisa juga mencari teman sharing, bisa sahabat atau psikolog perkawinan, untuk membantu meringankan perasaan.

 

 

14 September 2008

Dari tadi pagi sibuk banget di RS pindahan poli umum dan gigi…walaupun kepala sakit banget tapi namanya juga tugas..tetep…dijalani….

Barusan… lama banget ngomong ama miko… CURHAT….gak tau kenapa,kalau ama miko enak ceritanya….miko..miko…kapan selesai sekolahnya……tapi walaupun kecil mungil, tapi sosok miko sangat membantu dikala badai topan itu datang………topan ini melebihi  Rita di Amerika….Jadi ingat waktu masih di P…jujur kalau gak ada miko mungkin entahlah…..tapi salut dengan caranya membuat suasana jadi lebih kondusif

 

Untung aja ada miko…dengan penuh perhatian mendengar segala keluh kesah….miko tu masih 21 tahun tapi cara dia berpikir melebihi umurnya….gak tau kok bisa seperti itu…..

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.